Indra7dilaga's Blog

November 22, 2009

Pendidikan Karakter anak

Filed under: Artikel — indra7dilaga @ 11:48 am

Oleh :  Indra Bangsawan

Pendidikan karakter merupakan pendidikan budi pekerti, yaitu pendidikan yang melibatkan tiga aspek yakni aspek pengetahuan, perasaan dan tindakan. Pendidikan karakter menjadi berbeda dengan pendidikan moral karena pendidikan moral hanya terfokus pada pengetahuan tentang moral saja (lagi-lagi hanya menekankan aspek kognitif) Pendidikan karakter pelaksanaannya harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Dengan pendidikan karakter seorang anak akan mampu manguasai emosinya, karena anak yang memiliki masalah dengan emosinya biasanya akan mengalami kesulitan dalam proses belajar dan bergaul karena tidak mampu menggontrol emosinya. Dan sebaliknya anak atau remaja yang berkarakter atau mempunyai kecerdasan emosi tinggi akan terhindar dari masalah-masalah yang umum terjadi pada remaja seperti tawuran, minuman keras, pergaulan seks bebas dan kenakalan remaja lainnya. Pendidikan karakter dimulai dari dalam keluarga, apabila anak tersebut mendapatkan pendidikan karakter yang baik dari keluarganya maka anak tersebut akan berkarakter baik, dan sebaliknya apabila dari dalam keluarga anak tersebut sudah tidak mendapatkan pendidikan karakter yang baik maka anak akan kesulitan dalam menggontrol emosinya, dan biasanya kegagalan orangtua dalam mendidk karakter anak-anaknya disebabkan seperti orangtua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan atau bisa jadi karena orangtua lebih mementingkan aspek kognitif anak saja. Perlu di ingat bahwa bagi seorang anak, keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi pertumbuhan dan perkembangannya.  Karena melihat sesuai fungsi utama keluarga adalah sebagai wahana untuk mendidik, mengasuh, dan mensosialisasikan anak, mengembangkan kemampuan seluruh anggotanya agar dapat menjalankan fungsinya di masyarakat dengan baik, serta memberikan kepuasan dan lingkungan yang sehat guna tercapainya keluarga, sejahtera. Dan Keberhasilan keluarga dalam menanamkan nilai-nilai kebajikan (karakter) dan pada anak sangat tergantung pada jenis pola asuh yang diterapkan orang tua pada anaknya. Pola asuh dapat didefinisikan sebagai pola interaksi antara anak dengan orangtua yang meliputi pemenuhan kebutuhan fisik seperti makan, minum dan lain-lain, dan kebutuhan psikologis seperti rasa aman, kasih sayang dan lain sebagainya, serta sosialisasi norma-norma yang berlaku di masyarakat agar anak dapat hidup selaras dengan lingkungannya. Dengan kata lain, pola asuh juga meliputi pola interaksi orang tua dengan anak dalam rangka pendidikan karakter anak. Dan pola asuh orangtua terhadap anak dapat digolongkan menjadi tiga yaitu pola asuh otoriter, pola asuh permisif dan pola asuh demokratis :

  1. Pola asuh otoriter Cenderung membatasi perilaku kasih sayang, sentuhan, dan kelekatan emosi orangtua dan anak sehingga antara orang tua dan anak seakan memiliki dinding pembatas yang memisahkan orang tua dengan si anak. Badingah,1993; menunjukan bahwa ada keterkaitan antara faktor keluarga dan tingkat kenakalan keluarga, di mana keluarga yang broken home, kurangnya kebersamaan dan interaksi antar keluarga, dan orang tua yang otoriter cenderung menghasilkan remaja yang bermasalah. Pada akhirnya, hal ini akan berpengaruh terhadap kualitas karakter anak
  2. Pola asuh permisif Cenderung memberi kebebesan terhadap anak untuk berbuat apa saja sangat tidak kondusif bagi pembentukan karakter anak. Bagaimana pun anak tetap memerlukan arahan dari orang tua untuk mengenal mana yang baik mana yang salah. Dengan memberi kebebasan yang berlebihan, apalagi terkesan membiarkan, akan membuat anak bingung dan berpotensi salah arah.
  3. Pola asuh demokratis Pola asuh yang ini lebih kondusif dalam pendidikan karakter anak. Hal ini dapat dilihat bahwa orangtua yang demokratis lebih mendukung perkembangan anak terutama dalam kemandirian dan tanggungjawab. Sementara, orangtua yang otoriter merugikan, karena anak tidak mandiri, kurang tanggungjawab serta agresif, sedangkan orangtua yang permisif mengakibatkan anak kurang mampu dalam menyesuaikan diri di luar rumah.

Anak yang dididik dengan cara demokratis umumnya cenderung mengungkapkan agresivitasnya dalam tindakan-tindakan yang konstruktif atau dalam bentuk kebencian yang sifatnya sementara saja. Di sisi lain, anak yang dididik secara otoriter atau ditolak memiliki kecenderungan untuk mengungkapkan agresivitasnya dalam bentuk tindakan-tindakan merugikan. Sementara itu, anak yang dididik secara permisif cenderung mengembangkan tingkah laku agresif secara terbuka atau terang-terangan.

Kegagalan keluarga dalam melakukan pendidikan karakter pada anak-anaknya, akan mempersulit institusi-institusi lain di luar keluarga termasuk sekolah dalam upaya memperbaikinya. Kegagalan keluarga dalam membentuk karakter anak akan berakibat pada tumbuhnya masyarakat yang tidak berkarakter. Oleh karena itu, setiap keluarga harus memiliki kesadaran bahwa karakter bangsa sangat tergantung pada pendidikan karakter anak-anak mereka dalam keluarga. Dan tidak pernah terlalu terlambat untuk memulai mengajar karakter. Tidak peduli apa keadaan, atau siapa yang terlibat, semua orang dapat memperoleh manfaat dari pendidikan karakter. Baik Anak-anak dan orang dewasa akan melihat perubahan positif dalam kehidupan mereka saat ini program pendidikan karakter diikuti. Dengan itu, kita memiliki masyarakat yang berfungsi mengendalikan diri, hormat individu, yang berpikir sebelum mereka bertindak dan mempertimbangkan akibat dari tindakan mereka sebelum memutuskan arah tindakan-tindakan yang diperlukan.

Selain dalam keluarga pendidikan karakter juga selalu diasah dalam pendidikan formal seperti di sekolah, Peran pendidikan akan sangat penting, dimana pendidikan tidak hanya berperan sebagai wahana untuk transfer ilmu, akan tetapi juga untuk pendidikan karakter. Peran pendidik akan lebih berat tentunya, karena ia tidak hanya berperan untuk Ada sebagian dari mereka menyatakan bahwa pendidikan kita sekarang ini harus direformasi, karena apa yang selama ini diajarkan tidak membawa pengaruh yang signifikan dalam perubahan karakter manusia yang berujung pada karakter  dan sistem pendidikan saat ini difokuskan pada standar meningkatkan prestasi akademik. Namun, seperti kita menganggap dunia di mana kita hidup, kita memahami pentingnya membantu siswa untuk belajar jauh lebih banyak daripada mata pelajaran yang mereka pelajari. Seperti yang ada disekolah-sekolah maupun yang terjadi diperguruan tinggi sekalipun, pendidikan kognitifnya jauh lebih banyak porsinya dibandingkan dengan pendidikan karakter, sehingga siswa ataupun mahasiswa hanya cerdasa dalam bidang konitif saja sedangkan afektifnya kurang menguasai dan ini akan mengahasilakan output-output yang gagal.  Meskipun semua pihak bertanggung jawab atas pendidikan karakter calon generasi penerus bangsa atau anak-anak, namun keluarga dan sekolah memegang peran penting dalam pendidikan karakter anak. Untuk membentuk karakter anak keluarga dan sekolah harus memenuhi tiga syarat dasar bagi terbentuknya kepribadian yang baik, yaitu maternal bonding, rasa aman, dan stimulasi fisik dan mental.

Terima kasih,,,,,……………………!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

5 Komentar »

  1. menurut saya hal yang paling rawan memperngaruhi karakter anak adalah teman bermain. biasanya dalam hubungan pertemanan sering terjadi bulliying entah itu verbal atau pun action. yang paling berbahaya adalah bullyinh verbal karena itu akan membuat psokologi anak terganggu. hehehe,….

    Komentar oleh dwiwijayanti07 — Desember 27, 2009 @ 7:40 am

    • Terimakasih,,,
      saya apresiasi sekali dengan masukannya,,,
      dan untuk mengatasi bulliying,, tentu harus ada kerajasama antara orangtua,
      sekolah dan masyarakat sekitar (lingkungan)., dan Bagi siswa yang mengalami kekerasan,,
      Segera sharing pada orangtua atau guru atau orang yang dapat dipercaya mengenai kekerasan yang dialaminya,,..
      sehingga siswa tersebut segera mendapatkan pertolongan untuk pemulihan kondisi fisik dan psikisnya !!!!!!!!
      :))

      Komentar oleh indra7dilaga — Desember 27, 2009 @ 9:59 am

  2. Wah, saya juga tertarik dengan pendidikan karakter yang akhir-akhir ini mulai digembor-gemborkan lagi. Dulu juga sudah ada pendidikan karakter, tapi masih gagal. Jadi untuk yang akan datang, diharapkan supaya makin sip lagi. Pendidikan karakter memang cocok dengan PKn karena kita dapat menarik garis merah yang sama yaitu tentang demokrasi. Pendidikan karakter akan berkembang baik dengan adanya suasana demokrasi. Kita lihat saja besok, semoga akan lebih baik dari yang dulu.

    Komentar oleh ww8941hyda — Desember 28, 2009 @ 4:19 am

  3. bener bgt ndra,, 3 tmpt yg vital bgt bwt membentuk karakter anak adalah keluarga, lingkungan n sekolah.. kl salah satu nya bobrok misalnya lingkungan bermain yg orangnya amburadul, pasti sedikt banyak berpengaruh pada karakter siswa..
    seperti yg pernah di katakan bu tiwy : “segala sesuatu yang buruk itu lebih mudah diterima”. mungkin krn hal2 yg buruk itu lebih asik kali y ??😀

    Komentar oleh dhitarahma — Desember 31, 2009 @ 6:19 am

  4. pentink tch pendidikan karakter anak..
    dari lingkungan keluarga, sekolah n masyarakat dapat menentukan karakter anak,

    Komentar oleh rofik07 — Januari 13, 2010 @ 1:45 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: